Example floating
Example floating
Badan Keuangan
Uncategorized

‎Sambut Ramadhan, Pontren Al-Falah Gelar Halal Bil Halal, Penanda Libur Panjang Dimulai

×

‎Sambut Ramadhan, Pontren Al-Falah Gelar Halal Bil Halal, Penanda Libur Panjang Dimulai

Sebarkan artikel ini

Suaranet, Limboto Barat — Ratusan santri, ustadz-ustadzah, dan wali santri memadati aula Pondok Pesantren Al-Falah di Desa Tunggulo, Limboto Barat, dalam kegiatan halal bihalal tingkat pesantren, Minggu (15/02/26).‎‎

Mengusung semangat mempererat ukhuwah pasca-Ramadan, kegiatan tersebut menjadi momentum konsolidasi spiritual sekaligus sosial antara santri, ustadz-ustadzah, dan orang tua, dengan jumlah peserta mencapai sekitar 500 hingga 600 orang.‎‎

Ustadz Ryandika R. Pakaya dalam wawancara menjelaskan, halal bihalal tahun ini difokuskan pada penguatan relasi internal pesantren.

‎‎“Tema kegiatan hari ini adalah halal bihalal tingkat Pondok Pesantren Al-Falah. Esensinya untuk mempererat ukhuwah antara santri dengan santri, santri dengan para ustadz dan ustadzah, sekaligus dengan wali santri,” ujarnya.

‎‎Kegiatan yang digelar di aula utama pesantren itu sepenuhnya disiapkan melalui kolaborasi antara santri dan dewan guru. ‎

BACA JUGA: Wali Kota Adhan Akan Turun Langsung Sosialisasikan Penanganan Sampa di Kelurahan

Menariknya, panitia pelaksana kegiatan dibentuk secara internal, mencerminkan model pendidikan partisipatif yang selama ini diterapkan di lingkungan Al-Falah.‎‎

“Segala proses pelaksanaan merupakan hasil kolaborasi antara santri dan ustadz-ustadzah,” kata Ryandika.‎‎

Ciri khas Al-Falah sebagai pesantren dengan kompetensi bahasa asing turut ditampilkan dalam rangkaian acara, dengan penampilan ceramah agama dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Arab.

‎‎“Dalam halal bihalal ini juga ditampilkan ceramah agama dalam tiga bahasa,” jelasnya.

‎Puncak acara diisi dengan ceramah hikmah halal bihalal oleh Kyai Haji Husnul Nizam Kau, yang menekankan pentingnya menjaga persaudaraan dan kesinambungan ibadah selama Ramadan.‎

BACA JUGA: ‎Rica Tembus Rp80 Ribu, Warga Gorut Mulai Was-was

Halal bihalal di Al-Falah juga menjadi penanda masa libur panjang santri selama bulan suci. Tahun ini, masa libur berlangsung sekitar 45 hari.

‎‎Namun, kata Ustadz Ryandika, libur tersebut santri bukan berarti tanpa aktivitas. Selama masa tersebut, para santri ditugaskan kembali ke daerah asal masing-masing untuk menjadi imam dan penceramah di masjid-masjid desa.

‎‎“Selama 45 hari itu, santri tidak dalam keadaan tanpa aktivitas. Mereka ditugaskan menjadi penceramah dan imam di masjid-masjid di desa asalnya,” ujar Ryandika.

‎‎Dengan pola pembinaan tersebut, halal bihalal bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan titik temu antara pendidikan, pengabdian, dan penguatan karakter santri di tengah masyarakat.

Example 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *