Example floating
Example floating
Kota Gorontalo

Kominfo Kota Gorontalo Ikut Lestarikan Tradisi Maulid Nabi: Pakai Tolangga Moderen, Kue tetap Tradisional

×

Kominfo Kota Gorontalo Ikut Lestarikan Tradisi Maulid Nabi: Pakai Tolangga Moderen, Kue tetap Tradisional

Sebarkan artikel ini

SUARANET, GORONTALO — Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Kota Gorontalo tidak hanya menjadi momentum keagamaan, tetapi juga ruang untuk mempertahankan tradisi budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.‎‎

Hal itu terlihat dalam pelaksanaan perdana perayaan Maulid Nabi 1448 Hijriah yang dipusatkan di Masjid Agung Baiturrahim Kota Gorontalo, Senin (24/8/2026) malam.

Example 728x250

‎‎Disebut perdana karena setelah pelaksanaan di Masjid Agung Baiturrahim, kegiatan serupa akan dilanjutkan di masjid-masjid yang berada di setiap kelurahan hingga beberapa hari kedepan.

Dengan kata lain, pelaksanaan di Masjid Agung Baiturrahim menjadi simbol dimulainya rangkaian perayaan Maulid Nabi di masjid-masjid kelurahan di Kota Gorontalo.

‎‎Dalam pelaksanaan perdana ini, Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kota Gorontalo turut ambil bagian dalam perayaan dengan menyerahkan lima keranjang yang berisi makanan dan olahan kue tradisional yang identik dengan tradisi yang biasa disebut dengan Dikili atau Walimah ini kepada panitia pelaksana. 

Dalam prakteknya, tradisi Dikili atau Walima ini diikuti oleh puluhan hingga ratusan masyarakat yang berkumpul di masjid untuk berzikir, mengagungkan nama Allah, bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, serta mengisahkan perjalanan hidup Rasulullah menggunakan bahasa Arab dan bahasa daerah Gorontalo.‎‎

Pelaksanaan Dikili biasanya berlangsung selama belasan jam. Kegiatan dimulai selepas salat Isya dan dapat berlanjut hingga pagi hari.‎‎

Jamaah dipandu oleh pemuka agama, tokoh adat, serta pelantun zikir yang telah terlatih, yang dikenal dengan sebutan Wole dan Imamu.‎‎

Dalam tradisi original, Walima ditandai dengan penyajian berbagai makanan khas, kue tradisional, hingga ayam panggang yang ditata dalam wadah khas berbahan kayu atau bambu.

‎‎Wadah tersebut biasanya dibentuk menyerupai menara masjid dan dikenal dengan sebutan Toyopo atau Tolangga.‎‎

Namun, perkembangan teknologi dan perubahan pola kehidupan masyarakat turut memengaruhi cara tradisi tersebut dilaksanakan.

Penggunaan Toyopo atau Tolangga kini mulai berkurang karena proses pembuatannya membutuhkan ketelitian dan pemahaman mendalam terhadap berbagai makna simbolik yang terkandung dalam setiap bentuknya.

‎‎Oleh sebab itu, masyarakat kemudian mulai menggunakan wadah yang lebih praktis dan mudah digunakan.

‎‎Pilihan tersebut juga terlihat dalam partisipasi Dinas Kominfo dan Persandian Kota Gorontalo. Lima paket yang diserahkan kepada panitia menggunakan keranjang modern yang dapat langsung dibawa pulang oleh masyarakat penerima.‎‎

Namun, meski wadahnya berubah, dinas Kominfo dan Persandian Kota Gorontalo tetapi mempertahankan isi sajian menggunakan makanan dan kue tradisional.

‎‎Sebaliknya, sejumlah instansi lainnya tetap mempertahankan Toyopo atau Tolangga sebagai wadah, tetapi sajian di dalamnya telah menggunakan makanan kemasan.‎‎

Selanjutnya, setelah doa bersama selesai, makanan dan kue yang telah disiapkan kemudian dibagikan kepada jamaah, pelantun zikir, serta masyarakat yang ada di sekitar mesjid pada keesokan paginya.‎‎

Pembagian tersebut bukan sekadar membagikan makanan, tetapi menjadi simbol keberkahan, kebersamaan, dan semangat berbagi yang melekat dalam perayaan Maulid Nabi di Gorontalo.‎

Example 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *