Example floating
Example floating
Peristiwa

Dampak Kemarau, Warga Desa Huntu Terpaksa Konsumsi Bitule

×

Dampak Kemarau, Warga Desa Huntu Terpaksa Konsumsi Bitule

Sebarkan artikel ini

SUARANET. GORONTALO – Kisah warga di Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, yang terpaksa mengonsumsi bitule atau ubi hutan selama kurang lebih dua bulan, menjadi gambaran serius dampak kemarau panjang terhadap ketahanan pangan masyarakat.

Kondisi tersebut dialami sejumlah warga Desa Huntu dan Desa Pilobuhuta yang mengalami kesulitan ekonomi setelah tanaman pertanian mereka gagal panen.

Example 728x250

Informasi mengenai kondisi warga ini kemudian sampai ke Pemerintah Provinsi Gorontalo. Pemerintah pun turun melakukan penelusuran dan menemukan sedikitnya 10 kepala keluarga yang disebut bertahan hidup dengan mengonsumsi bitule.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DKPTPH) Provinsi Gorontalo, Muljadi D Mario, mengatakan, informasi tersebut diterima setelah Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail mendapat laporan dari masyarakat.

Setelah dilakukan penelusuran di lapangan, petugas menemukan warga yang tersebar di Desa Huntu dan Desa Pilobuhuta.

Menurut Muljadi, warga mengaku mengonsumsi bitule karena mengalami kesulitan keuangan setelah sumber penghasilan mereka dari sektor pertanian terdampak gagal panen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kemarau panjang bukan hanya persoalan produksi pertanian. Ketika tanaman gagal panen dan pendapatan petani terhenti, dampaknya dapat langsung menyentuh kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Sebagai bentuk intervensi, Pemerintah Provinsi Gorontalo menyalurkan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) yang dialokasikan pemerintah pusat melalui Perum Bulog.

Masing-masing keluarga penerima mendapatkan 30 kilogram beras.

Bantuan tersebut kemudian ditambah DKPTPH Provinsi Gorontalo berupa lima kilogram beras, satu liter minyak goreng, 10 butir telur, serta benih jagung.

Benih jagung diberikan untuk membantu warga kembali menjalankan aktivitas pertanian setelah sebelumnya tanaman mereka gagal panen akibat kemarau.

Kasus 10 kepala keluarga di Batudaa seharusnya tidak hanya dilihat sebagai keberhasilan pemerintah menemukan dan memberikan bantuan kepada warga yang membutuhkan.

Lebih jauh, kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi terhadap sistem deteksi dini kerawanan pangan dan dampak kekeringan di tingkat desa.

Sebab, warga yang selama dua bulan mengonsumsi bitule menunjukkan bahwa tekanan ekonomi dan pangan telah berlangsung cukup lama sebelum akhirnya mendapat perhatian pemerintah.

Example 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *