Example floating
Example floating
Badan Keuangan
Berita Pilihan

Bayang-Bayang ‘Boti’ dan Waria di Gorontalo: Disebut Jadi Faktor Dominan Lonjakan Kasus HIV

×

Bayang-Bayang ‘Boti’ dan Waria di Gorontalo: Disebut Jadi Faktor Dominan Lonjakan Kasus HIV

Sebarkan artikel ini

TAJUK | GORONTALO, SUARANET — Fenomena keberadaan kelompok “boti”, waria, atau komunitas LGBT di Provinsi Gorontalo belakangan menjadi sorotan publik, terlebih setelah data kesehatan menunjukkan korelasi antara perilaku menyimpang ini dengan peningkatan kasus HIV/AIDS.‎‎

Dikutip dari data yang diberitakan infopublik.id (17/05/25), hingga akhir 2025 tercatat sebanyak 1.363 kasus HIV di Gorontalo. Dari jumlah tersebut, hubungan sesama jenis disebut sebagai salah satu faktor risiko terbesar dalam penularan, dengan 591 kasus atau sekitar 43% dari total kasus yang teridentifikasi dalam sistem layanan kesehatan.‎‎

Example 728x250

Berdasarkan proyeksi jumlah penduduk sekitar 1,256 juta jiwa pada 2025, angka kumulatif 1.363 kasus HIV di Gorontalo setara dengan sekitar 0,11% dari total populasi. Meski terlihat kecil secara persentase, tapi angka ini cukup signifikan untuk wilayah Gorontalo dengan populasi yang relatif kecil.‎‎

Data menyebutkan bahwa kelompok Gay, Waria, dan Lelaki Seks Lelaki (LSL) termasuk dalam kategori populasi penyebaran HIV paling tinggi di Gorontalo.‎‎

BACA JUGA: Mie Gacoan Gorontalo Kalah di Pengadilan: Gugatan Rp20 Miliar Ditolak, Justru Diminta Lunasi Sisa Kontrak‎‎

Selain faktor perilaku seksual berisiko, jenis pekerjaan tertentu juga muncul dalam data epidemiologi. Pekerja salon atau tata rias, yang dalam beberapa kasus melibatkan individu waria, tercatat menyumbang 132 kasus infeksi HIV.

‎‎Lebih parahnya lagi, kasus HIV di Gorontalo juga banyak ditemukan pada kelompok usia muda. Data menunjukkan sekitar 412 kasus atau 30.23% terjadi pada rentang usia 15 hingga 24 tahun. Ini juga diduga karena dipengaruhi oleh perilaku LSL (Lelaki Seks Lelaki) dikalangan anak muda.‎‎

Adapun secara geografis, Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo menjadi wilayah dengan konsentrasi kasus tertinggi. Tak heran, jika belakangan dua wilayah ini sangat aktif membatasi aktifitas para penyintas LGBT, khususnya waria di ruang publik.‎‎

Terakhir, yang perlu dicatat: HIV tidak dapat digunakan sebagai ukuran pasti jumlah populasi LGBT di Gorontalo. Angka yang tercatat hanya merepresentasikan individu yang terdiagnosis dalam sistem layanan kesehatan, bukan keseluruhan komunitas atau populasi yang ada di masyarakat.‎

Example 728x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *